Kenyamanan

March 05, 20214 min read

Cover Image - Kenyamanan
Photo by Cookie the Pom on Unsplash

Setelah sekian lama menghabiskan waktu sebagai Distro Hopping, kini memberanikan diri untuk menggunakan Distribusi Linux (dibaca: Distro) dengan Window Manager Standalone.

Arch. Why?#

Saya setuju turuan Debian (atau spesifiknya Ubuntu) adalah pilihan terbaik apabila menginginkan Distro dengan hardware compability yang hampir tidak ada masalah, tampilan user-friendly, aplikasi yang kestabilannya sangat tinggi, dan segalanya sudah disiapkan matang-matang oleh distributor. Jagoan saya dulu adalah Linux Mint XFCE dan KDE Neon, semuanya hampir tidak ada kendala teknis yang saya temukan disana.

Karena faktor penasaran dan pengetahuan saya tentang Linux, perilaku saya dalam menggunakan Sistem Operasi pun berubah. Banyak ketidakpuasan dan hal-hal sepele yang mengganggu pikiran, dari aplikasi yang tidak tersedia dan mengharuskan compile sendiri hingga penggunaan yang menjadi sangat kompleks (mengerjakan banyak 1 tugas dalam satu waktu) mengakibatkan resource memory sangat terbebani.

Beruntungnya Arch menyelesaikan semua masalah tersebut, terlebih ada AUR Package yang hampir semua package-package open source ada disana hahaha.

Hingga akhirnya saya menemukan Distro Archlabs, yang merupakan turunan dari Arch. Alasan saya lebih memilih turunannya karena tidak ingin dipusingkan oleh konfigurasi dasar, seperti mengatur user management, soundcard, network, display dan lain sebagainya yang saya rasa akan cukup memakan banyak waktu. Saya sengaja tetap menggunakan Systemd dibandingkan dengan Runit/openRC yang sedang banyak dibicarakan oleh teman-teman ~/.dotfiles, karena tidak ada alasan khusus bagi saya untuk menggunakannya. Dan (lagi) saya tidak ingin dipusingkan oleh perbedaan syntax antara masing-masing init systems tersebut.

Window Manager#

Keputusan saya dalam memilih Window Manager bukan hanya kebetulan semata seperti menemukan rupiah di pinggir jalan, tentunya saya melakukan riset terlebih dahulu *ehm untuk mencari referensi dari banyaknya sumber yang berada di Internet.

Saya tidak ingin membahas Window Manager secara detail, dan diantara banyaknya yang dapat dikonsumsi, saya memutuskan menggunakan i3wm. Karena saya tidak ingin ricing from scratch, maka menentukan Window Manager pun tidak terlepas dengan Distro yang akan digunakan, yakni Archlabs. Archlabs secara default sudah menyertakan i3wm dalam default Window Manager-nya.

i3wm merupakan Window Manager paling cocok untuk pemula bagi saya, dokumentasi yang lengkap sangat memudahkan saya dalam melakukan konfigurasi.

Workflow#

Sejauh ini saya sangat nyaman dengan setup sekarang, tentu saja semua ini berkat i3wm dengan tiling magic-nya yang benar-benar magic. Dengan 9 workspace yang tersedia, saya bisa mengatur masing-masing workspace—selanjutnya saya singkat dengan WS—sesuai dengan pekerjaan spesifik.

Workspace
Workspace 1

Pertama WS1, semua pekerjaan yang dapat diakses oleh terminal saya biarkan berjalan disini. WS2 hanya untuk browser. WS3 tempat saya menulis code, vscode adalah IDE paling cocok dengan kebutuhan saya saat ini. WS4 dimana file manager berada, saya tidak bisa setiap saat menggunakan file manager terminal seperti nnn untuk kepoin berkas-berkas—yang walaupun direktori drive saya terbilang cukup rapih. WS5 saya biarkan tetap kosong, dipakai untuk membuka aplikasi random yang memang jarang saya pakai, biasanya Telegram atau Discord. WS6 untuk Spotify, aplikasi wajib ada di desktop. saya bisa mendengarkan musik hingga ~5 jam perharinya hahaha.

Terakhir WS6 - WS9 yang saya gunakan ketika dual monitor saja. Seringnya digunakan untuk code review atau membuka browser (lagi) untuk debugging project web, karena menyebalkan untuk berpindah-pindah workspace untuk tiap permenit, bukan?

F*ckin Keybind#

Keybind atau keyboard shortcut menjadi kunci utama dalam Window Manager. Karena banyak hal-hal dasar yang tidak bisa dilakukan oleh mouse pada umumnya dan hanya menerima perintah-perintah dari keyboard shortcut saja. Sebagai contoh saya akan ilustrasikan dengan gambar diatas, kalau diperhatikan baik-baik dari ketiga terminal—yang menjalankan fet.sh, cava - Audio Visualizer, dan compile next.js project—tidak memiliki tombol/icon minimize, maximize, ataupun close bukan? Disinilah keybind bekerja untuk menggantikan tugasnya.

Semua keybind terkait pengoperasian Window Manager berpusat pada tombol Super (dikenal juga sebagai Windows) agar tidak confilct dengan keybind dari aplikasi pihak ketiga yang kebanyakan menggunakan Ctrl. Kembali ke permasalahan diatas, untuk menutup sebuah aplikasi saya hanya cukup mengkombinasikan antara Super+C atau berpindah antar workspace 1 hingga 9 dengan menekan Super+(1 s/d 9), praktis? Tentu saja.

What's next?#

Baru 3 bulan semenjak saya menggunakan i3wm, dan sedikit demi sedikit kembali tergarami oleh show off setup teman-teman ~/.dotfiles dengan window manager dwm/awesome yang digunakannya, juga Runit sebagai init system yang "katanya" tidak bloated, kedua hal tersebut berhasil membuat saya ingin mengeksplor lebih dekat.

Berpikir untuk mencoba? Tentu tidak. i3wm masih terasa powerfull dengan kebutuhan saya saat ini.

Dan pastinya masih banyak yang perlu saya eksplor untuk terus meningkatkan produktivitas yang hakiki dengan Window Manager bernama i3, bukan?

Terima kasih sudah mampir.


Spotify

/advices/books /now/snippets/uses